Islam Politik

Maret 16, 2006 at 10:36 am (Polemik)

Oke deh, met melakukan analisa terhadap asumsi-asumsi penulisnya tentang teori konspiratif, walau saya jugatidak terlalu ingin mengetahui motif sang penulisdengan tulisan seperti itu.Tetapi sekarang, nampaknya memang lagi trend teorikonspirasi, kemarin di mailist TIFA orang-orang juga pada ngeributin posting tulisan Ibnu Waraq, seorangpenulis barat yang terkenal sangat sarkas dan sinisterhadap Islam. Mereka ngeributin apa motif orang memposting tulisan tersebut, lagi-lagi teorikonspiratif, he…he…he…(padahal, saya sudah membaca karya-karya Ibnu Warraq sejak lima tahun yanglalu, biasa aja tuh).

Met membaca

@HasrulKhalili

Thanks Hasrul,

Saya tertarik pada tulisan, tetapi bukan karena saya setuju pada argumen tulisan itu. Saya melihat tulisanitu tidak lebih dari analisa teori konspirasi yang penuh asumsi.

Asumsi-asumsi yang dipakai penulis tidakdisertai bukti-bukti dan tentu saja sangat berpotensisalah. Misal dikatakan dalam analisa itu bahwa adagrand desain kelompok radikal Islam untukmensyariahkan Indonesia, saya kira, hal itu terlalumenyederhanakan soal. Jangan lupa kelompok radikal Islam itu kan tidak homogen dan tidak akur, pandangannya-pun berbeda-beda tentang apa harus disyariahkan dan apa yang ditolerir.
Oleh karena itu, daripada memperhatikan isi wacana yang digulirkan saya lebih tertarik untuk menganilisisapa maksud si pembuat milis ini melansir wacana teorikonspirasi semacam ini.

@TatakUjiyati

Mbak Tatak dan Mas Jaz yang baik, ini saya posting lagi tulisan tentang Islam Politik itu. Walaupun ada banyakpertanyaan terhadap asumsi-asumsi yang dibangun dalmartikel ini, tetapi (menurut pendapat saya), beberapadiantaranya “mengindikasikan kebenaran” yang tak terbantahkan🙂 . Ketika saya memposting tulisan ini,tidak ada pretensi apapun selain mengingatkan kita (sebagai bagian dari yang direpresentasikan entitas(politik) Islam), bahwa selalu ada yang absurd untuk dijelaskan ketika kekuatan Islam mulai merambah ranahpolitik yang berdimensi kekuasaan. Karena dalampolitik kekuasaan selalu ada potensi (baca: godaan) untuk terjatuh pada “pornograpi/syahwat kuasa”, takterkecuali politik yang diatasnamakan Islam sekalipun.Syahwat kuasa yang dimaksud adalah, untuk dan atas
nama kejayaan dan kemenangan politik Islam, suatu saat memang harus ada orang/kelompok tertentu yang mestidisingkirkan sebagai peneguhan keberhasilan politikIslam. Cuma kadang terasa ironis, karena yang disingkirkan ternyata juga bagian dari komunitas Islamperipheral/nir kuasa, misalnya: Ahmadiyah, Syiah,Darul Arqam, Ahlus Sunnah wal Jamaah non Wahabi (silakan baca tulisan Abdul Moqsith Ghazali di websiteJIL tentang masifikasi gerakan politik Wahabi diIndonesia), dan lain-lain. “Hands have no tear to flow”, kekuasaan memang tak pernah punya air matauntuk menangis, begitu kata seorang penyair Amerika.Syahwat kuasa politik Islam ini pulalah yang sering meciptakan terjadinya “selingkuh-selingkuh” politikyang membingungkan, seperti pada kasus “perdebatanpanjang” dikalangan PKS (saya simpatisan partai ini loh, untuk semangat anti korupsinya) ketika akanmemberikan dukungan poltik kepada Amien Rais (seorangreformis) atau kepada Wiranto (seorang penjahat kemanusiaan), yang diisukan mengalami transformasi pertobatan seperti Umar bin Khattab🙂 .

Alhasil, untuk semua gerakan politik (yang menggunakanjargon Islam sekalipun) kita memang harus selalu aware, bahwa selalu ada hukum besi yang menjijikkandisana, yaitu, bahwa untuk mengafirmasi kejayaanpolitik Islam, kadang dibutuhkan “korban yang disembelih disana”, hatta dengan melecehkanprinsip-prinsip kemanusiaan universal sekalipun.

PS: Untuk mbak Tatak yang setahu saya adalah pengagumrevolusi Islam Irannya Imam Khomenei q.s. (saya juga,he…he…he…) sudah baca komik “Revolusi Iran DiMata Seorang Anak”, terbitan Resist Jogja, belum?Kalau belum silakan baca:-).

@HasrulKhalili

Iya nih bagus banget itu tulisan, aku jadi merasa semakin mantap bahwa diriku termasuk bagian yang dikritisi sebagai pendukung islam politik🙂 ..

Siapa yang pro saya ya…? apa rekan-rekan pro penulisnya? Kalau lagi berkuasa dan tidak memperjuangkan ajaran islam, lalu buat apa berkuasa?🙂

Mau berkuasa saja susah, ya toh!

@AkhmadJazzuli

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: