Cerita Gempa Jogja

Mei 31, 2006 at 8:39 am (Renungan)

Direnungkan oleh Denny Indrayana:

Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut ini. Bersyukurlah
saya, kita semua: "Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan."

(1)

SeKATA

SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak siapa-siapa. Hanyaorang-orang yang masih punya tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman Daerah, Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) danlain-lain. SeKATA punya cara kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari dermawan, membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan sama sekali.Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata. Tanpa banyak kata.Hanya demi korban gempa, ber-Seiya Sekata, membangun barisan:

SukarElawan duKA YogyakarTA.

***

(2)

Dimana Ibu?

Pasca gempa. Tembi Kidul, desa Timbulharjo. Sang suami barumenyelesaikan sholat dengan istrinya. Seusai berdoa, dikecupnya keningsang istri penuh kasih, bertatap sayang.

Sang istri segera menuju dapur mencuci piring. Sang suami lalu membangunkan tiga malaikat kecilnya. Membelai lembut mereka, sambilmembisikkan senandung adzan shubuh, mengalirkan kerinduan bertemu sang Khalik kepada ketiganya. Bumi bergoyang. Rumah terhempas ke kiri-kanan. Tiga anak yang sedangsholat terlindungi. Posisi sholat, di samping lemari, melindungi mereka dari jatuhan reruntuhan bangunan rumah."Anak-anak segera keluar rumah" histeris sang ayah, di tengah himpitan pintu yang menyesakkan dadanya. Dengan susah payah, ia melepaskan diri.Dilihatnya ketiga anaknya sudah berdiri cemas, pucat-pasi di halaman.

"Mana Ibu?""Ndak tahu…ndak tahu…mana???" ketiganya celingukan, tersedu.

"Bu….bu………Ibu?"Tak ada sahutan. Nyaris seluruh dinding rumah rata dengan tanah. SangIbu tak terlihat. Tak terdengar.

Berempat mereka memutari rumah dan mencoba mencari tahu. Tak adabantuan tetangga. Semuanya sibuk menyelamatkan diri dan keluargamasing-masing.

Detik…Menit… Jam berlalu…Tak ada sosok, tak ada suara Ibu. Dimana Ibu? Satu jam lebih, ketika mereka melihat telapak tangan. Tersembul diantara reruntuhan tembok rumah tetangga. Innalillah. Tak ada nafas.Tangan sang bunda masih menenteng tas plastik sampah yang ingin dibuangnya. Innalillah…Sang suami dan anak segera bergegas mengangkat tembok-tembok yang menindih mayat ibunya.

"Ibu…Ibu dimana….Ibu kok diam saja", lirih sang bungsu…Sang suami tak berkata. Diam seribu basa.Hanya terbayang olehnya: kecupan terakhir di kening istrinya. Kecupansetelah sholat shubuh sebelum gempa di fajar Sabtu itu.

***

(3)

Birokrasi Kotoran Sapi

Jetisharjo, Bantul. Pasca gempa. Beberapa keluarga tinggal di tempatyang amat tak layak. Barak mereka bertetanggaan dengan kandang sapi.Tentu saja aroma alam dari kotoran sapi sangat menusuk.

"Pak RT warga anda sebaiknya kami evakuasi ke tempat yang lebih layak".

Pak RT dengan santun menjawab, "Jangan Pak, nanti saya kesulitan. Soalnya pemerintah meminta saya melakukan pendataan warga. Kalaumereka meninggalkan tempat, saya tidak dapat membuktikan pendataansaya di hadapan pemerintah."

Akhirnya, hingga berhari-hari setelah gempa sang pemerintah tidak juga muncul di lokasi. Dan tetaplah para warga menghirup bau sedap kotoransapi bercampur rumitnya birokrasi tingkat RT. Argggggggghhhhhhhhhhbirokrasi, bikin repot sekali!

Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut ini. Bersyukurlah saya, kita semua. "Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan".

(4)

Gempa di Negeri Kampung Maling

Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul. Hadirlah bukti nyata Indonesia, "Negeri Kampung Maling". Pencuri mengambil kesempatan ditengah duka gempa sekalipun.
Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat hujan. Di tenda posko yang seadanya.Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para relawan membawabantuan. Nyatanya, para relawan gadungan itu tega, teramat tega.

Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa yang sedangdiparkir di samping posko bantuan.

"Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa"."Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang kecurian".

"Teganya mereka ya Allah".

Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk para relawan,tetapi juga para manusia yang tak punya perasaan kemanusiaan.

***

(5)

Kejujuran Kain Kafan

Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka ke sekian.Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit sudah menyerah.Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke sekian.Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang. Meski demikian,uang 400 ribu diberikan ke seorang relawan. Misinya: cari kain kafan.

Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang jelas dia datang,menyatakan siap bergabung dengan SeKATA. Dari pagi hingga sore, takada kabar. Bendahara SeKATA mulai gelisah.Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa segulung kain kafan.Dengan muka sumringah.

"saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana".

Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa Tekstil, yang sudah bersiap tutup."Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban gempa"."Ambil saja Mas. Gratis".

Ada mata sayu, dan senyum sendu seiringsuara tulus itu."Alhamdulillah".

Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku celananya.Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke bendaharaSekATA."Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai". Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa, karena sempat berprasangka buruk.

"Terimakasih mas"."Eh, siapa namamu".

"Aris".

Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran dinegeri kampung maling.Terimakasih Aris.

***

(6)

Kejujuran Loper Koran

Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling dengan sepeda ontelnya. "Pak, bagaimana kondisi panjenengan"."Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi. Rubuh."

"Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak"Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam. Dan berlalu dengansepeda ontelnya.Saya dan istri terdiam. Terpaku.
Esoknya.

"Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini ongkosnya".

"Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya. Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan. Ibu bawa bantuan dan uang ituke lokasi saja. Jangan diberikan kepada saya".

Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah banyak korbanberteriak meminta bantuan. Sang loper koran dengan wajah lugunya,suara seraknya, tetap bertahan dengan idealisme sederhananya. Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran dinegeri kampung maling.

Terimakasih Pak Paijo.

***

Salurkan Sumbangan Anda ke:

Denny Indrayana
Bank Central Asia Cabang Yogyakarta
Swift Code: CENAIDJA
No. Rek. 037 226 3278

========================

denny.indrayana@mail.ugm.ac.id
dennyindrayana@gmail.com
denny@justice.com

Permalink 1 Komentar

Wanted: KEJUJURAN

Mei 19, 2006 at 7:36 am (Curhat)

Hari ini, sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri membeli kartu isi ulang Simpati 50 ribu di sebuah wartel di dekat rumah saya di bilangan Tebet. "Berapa, Mbak" tanya saya."58 ribu, Mas""OK, ini uangnya, 100 ribu"

Wah, ga ada kembalian, Mas. Uangnya yang pas aja""Uang saya cuman ada 102 ribu, Mbak"

Akhirnya penjaga wartel itu mengeluarkan uang kembalian sebesar 48 ribu.

"Mbak, ini kembaliannya ada. Tadi koq bilang nggak ada" tanya saya dengan bersungut-sungut. Mbak itu hanya terdiam saja tanpa berani memandang kedua bola mata saya yang menatapnya dengan tajam. Sejak itu saya meneguhkan hati saya untuk tidak membeli ataupun menelepon di wartel tersebut.

*** 

Suatu ketika, saya hendak membeli tiket kereta api (tag) dari kota Lund (Swedia) ke Kopenhagen (Denmark). Kebetulan uang saya terlalu besar. Hingga akhirnya saya memutuskan diri untuk mampir ke sebuah mini market bernama "Presbyran" di stasiun kereta Lund.

"Mbak, saya mau menukarkan uang saya untuk membeli tiket kereta, bisa?" tanya saya.

"Maaf, Mas, sebenarnya saya ingin sekali membantu Mas. Namun kebetulan manajer saya meminta saya untuk menolak menukarkan uang kepada siapapun yang hendak menukarkan uang di sini karena toko Kami membutuhkan uang pecahan kecil juga. Maaf sekali ya, Mas" jawab penjaga toko itu dengan wajah nampak berempati.

"Oh, nggak pa-pa, koq" jawab saya sambil tersenyum ikhlas kepada gadis berambut pirang dan bermata biru tersebut.

Menteng, 19 Mei 2006 @DwiSatyaArdyanto

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Feminism (2)

Mei 18, 2006 at 7:54 am (Polemik)

(Ini pengalaman pribadi)….Melelahkan sebenarnya membaca buku-buku feminisme dengan pendekatan konflikseperti banyak beredar di pasaran saat ini, karena mainstream gagasannya seperti hendak menempatkanposisi laki-laki dan perempuan dalam situasi berhadap-hadapan satu dengan yang lain. Padahal pokokpersoalannya sederhana, ini soal penindasan, dan penindasan adalah sejenis penyakit laten yang bisamenghinggapi siapa saja (laki-laki atau perempuan). So, siapa yang diberi keleluasaan untuk menindas makaia akan menjadi penindas (seperti kata Nietze, motifdasar manusia adalah "kuasa" dan kuasa selalu memerlukan objek penindasan. Freud mengemukakan teorilain, motif dasar manusia adalah "libido"­čÖé .

Solusinya, tentu saja menciptakan relasi yang setaraantara laki-laki dan perempuan, bukannya meneguhkanajaran yang mengenal logika "yang tertindas hari iniadalah sang penindas yang tertunda". Dengan sebuahaksentuasi, setara dalam harmoni, bukan setara dalam posisi vis a vis dan konfrontatif (…ADALAHPENDEKATAN MODERNISTIK YANG HAMPIR SELALU MENEMPATKANMSESUATU DALAM POSISI YANG DIKOTOMISTIK DAN
BERTENTANGAN ANTARA SATU DENGAN YANG LAIN SECARA DIAMETRIKAL, DAN PENDEKATAN INI MENUAI KRITIKDIMANA-MANA!…).

Begitulah benang merah yang bisa saya simpulkansetelah membaca buku tentang feminisme yang mencerahkan yang berjudul "Membiarkan Berbeda" karangan Ratna Megawangi beberapa tahun yang silam. Sebuah buku yang mencoba membedah persoalan feminismedari perspektif mistik, dan mencoba membangun konsepsi relasi kesetaraan baru antara laki-laki dan perempuandalam kerangka harmoni berdasarkan prinsip-prinsipajaran kaum mistis di dunia timur.

(Ini pengalaman pribadi)…betapa menyenangkannya,hari ini saya bangun dari tidur, berucap alhamdulilah kepada Tuhan atas anugerah kehidupan yang dilimpahkan,seraya berjanji dalam hati, bahwa sebagai wujud rasasyukur, hari ini saya akan berbuat kebajikan kepada sesama manusia termasuk tentu saja kepada istri saya,sosok manusia yang paling dekat dengan saya hari ini. Lalu, saya bangun, membersihkan dan merapikan tempattidur, menyapu ruang dalam dan luar rumah, mencuciperabotan rumah yang kotor, dan lain-lain. Sementara istri saya, bergegas ke dapur memasak sarapan pagi.Begitu selesai saya berinisiatif menghidangkannya (Thaks God bahwa saya tidak termasuk kebanyakan lelakiyang emoh menyiapkan hidangan makan untuk istri yangnota bene wanita karir, seperti disinyalir Mbak Linda!) untuk disantap bersama-sama sebelum berangkatke kantor. Selesai makan, saya menaruh dan (kalaumasih sempat) mencuci lagi alat-alat makan yangbarusan dipakai. Setelah itu, menerima ucapan salam (saya sering memaknainya sebagai doa) dari istri,sesaat setelah ia mencium tangan untuk pamitan kekantor, sambil tak lupa mengucapkan kata agar berhati-hati melakukan aktivitas apapun.Alhamdulillah…
Sembari melihat kepergian istri ke kantor, terngiang-ngiang kembali saya pada apa yang tertulisdalam sebuah buku hadist yang menceritrakan ahlakRasul SAW yang mulia yang diberi Bab "Kanaa Yahdimu fiaitihi" (Bab tentang Perbaktian Baginda Rasul diRumahnya kepada Keluarganya).

Lalu…mandi, kemudian bergegas ke kampus, melanjutkanjanji kesyukuran atas anugerah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan dengan cara berbuat kebajikankepada sebanyak mungkin manusia yang kita jumpai hariitu…sambil mengenangkan sabda baginda Rasul
"Khairunnas anfauhum linnas" (Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesamanya).(Sungguh, ini pengalaman pribadi)….

@HasrulKhalili

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Feminism

Mei 18, 2006 at 7:41 am (Polemik)

One of the superb book that stimulates my mind to reconceive about the feminism theory is "Why Men Don't Listen and Why Women Can't Read Maps", written by Allan and Barbara Pease. Look to the title, seems to be a silly book, huh­čÖé Anyways, the first question that arises is why could men dominate the patriarchy culture? So, the book tries to unmask this question by serving some of the medical and hormonal facts and researches that distinguish between men and women, particularly in terms of job separation. Even from the very prehistoric culture..woohaa!

Nonetheless, i found few of men who like to prepare food for their children, make a milk for their babies, etc, regardless their job at the office. Probably, i really want to be that kind of man as well. No need to be shame (that's why i like to cook and i found that my girlfriend is not that eager to be with children:p-yet that's ok). So i think, we can still shape ourselves to be something or someone that we want to be since we have "self-awareness", even though we are usually thought by our "social mirror" that women are there to feed their babies and men have to carry out their tasks earning money for the sake of their family.

OK, ada tanggapan?

@DwiSatyaArdyanto 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Islam @Oprah

Mei 11, 2006 at 8:08 am (Polemik)

(1)

Saya kebetulan nonton acara Oprah pas tema itu, maklum, saya penggemar berat Oprah. Pada saat acara Oprah berlangsung, biasanya saya menyimaknya dengan kusyuk"­čÖé . Saya kira teman kita "terlalu mendramatisir"pernyataan warga AS tersebut. Wong, dia cuma bilang dengan nada datar dan air muka biasa-bisa saja, kalau model interaksi laki-laki dan perempuan yang diterapkan dalam tradisi Islam (mungkin) bisa menjadi referensi yang lain di tengah berbagai problematika seksual (ex. aborsi, perselingkuhan, kenakalan remaja, dll) yang melanda masyarakat Amerika saat ini. So,tidak ada yang istimewa. Kita saja orang Islam gereandan doyan "mengklaim sesuatu" secara berlebih-lebihan.

Justru yang menarik adalah pertanyaan Oprah dan jawaban yang bersangkutan ketika diskusi tentang "sikap diskriminatif" warga AS terhadap muslim (arab) di Amerika yang kadang tidak proporsional dan cenderung menggeneralisir. Dia misalnya, secara objektif menjelaskan perasaan kebencian yang "gebyah uyah" oleh sebagian besar warga AS (termasuk dirinya) terhadap umat Islam (yang nota bene sebagiannya juga adalah warga negara AS) pada saat mengetahui bahwa yang melakukan peristiwa 11 September itu adalah muslim (arab). Sebuah perasaan kebencian yang sama ternyata tidak terjadi pada peristiwa pemboman di Okhlahoma, yang dilakukan oleh orang Amerika berkulit putih dan non muslim.

Biasa aja lah…

(2)

Yang jelas, acara Oprah dengan tema itu seperti mengafirmasi pendapat yang mengatakan bahwapengetahuan orang Amerika tentang Islam (sebagai "theothers") sangatlah minim (untuk tidak mengatakannya "memprihatinkan"). Maklum saja, mengutip Neil Postman (seorang pakar komunikasi di Amerika), masyarakat Amerika saat ini memang "dikepung oleh budaya TV",sebuah ikon yang sekaligus menjadi media yang sebenarnya sangat tidak cukup representatif menjelaskan berbagai wacana, tak terkecuali wacana tentang agama Islam. Kata Postman, orang Amerika cuma tahu nama Khomenei, tetapi hampir bisa dipastikan tidak tahu atribut-atribut yang menyertai Khomenei,seperti: gelar Ayatullah maknanya apa, hakekat revolusi Islam itu apa, karbala itu simbolisasiperjuangan melawan apa, ideologi Islam (syiah) ituapa, dll. Saya masih ingat betul pernyataan warga AS
itu di depan Oprah waktu dia bilang bahwa dirinya sering menanyakan kepada teman-teman Amerikanya tentang sejumlah tokoh dan lembaga Islam yang dikenal. Mereka rata-rata secara refleks menyebut nama: Osama bin Laden, Saddam Husein, Al-Qaeda….dst, tokoh dan lembaga yang memang identik dengan aktivitasterorisme­čśŽ .

Sementara orang Islam sendiri tidak cukup cerdasmensosialisasikan Islam secara tepat pada masyarakatAmerika dalam konteks media. Alih-alih menggunakanmedia sebagai wasilah untuk menjelaskan Islam dengancara yang baik, umat Islam malah dijadikan oleh media sebagai umpan empuk untuk meneguhkan pandangan bahwa Islam identik dengan terorisme.

@HasrulKhalili

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »