Feminism (2)

Mei 18, 2006 at 7:54 am (Polemik)

(Ini pengalaman pribadi)….Melelahkan sebenarnya membaca buku-buku feminisme dengan pendekatan konflikseperti banyak beredar di pasaran saat ini, karena mainstream gagasannya seperti hendak menempatkanposisi laki-laki dan perempuan dalam situasi berhadap-hadapan satu dengan yang lain. Padahal pokokpersoalannya sederhana, ini soal penindasan, dan penindasan adalah sejenis penyakit laten yang bisamenghinggapi siapa saja (laki-laki atau perempuan). So, siapa yang diberi keleluasaan untuk menindas makaia akan menjadi penindas (seperti kata Nietze, motifdasar manusia adalah "kuasa" dan kuasa selalu memerlukan objek penindasan. Freud mengemukakan teorilain, motif dasar manusia adalah "libido" :) .

Solusinya, tentu saja menciptakan relasi yang setaraantara laki-laki dan perempuan, bukannya meneguhkanajaran yang mengenal logika "yang tertindas hari iniadalah sang penindas yang tertunda". Dengan sebuahaksentuasi, setara dalam harmoni, bukan setara dalam posisi vis a vis dan konfrontatif (…ADALAHPENDEKATAN MODERNISTIK YANG HAMPIR SELALU MENEMPATKANMSESUATU DALAM POSISI YANG DIKOTOMISTIK DAN
BERTENTANGAN ANTARA SATU DENGAN YANG LAIN SECARA DIAMETRIKAL, DAN PENDEKATAN INI MENUAI KRITIKDIMANA-MANA!…).

Begitulah benang merah yang bisa saya simpulkansetelah membaca buku tentang feminisme yang mencerahkan yang berjudul "Membiarkan Berbeda" karangan Ratna Megawangi beberapa tahun yang silam. Sebuah buku yang mencoba membedah persoalan feminismedari perspektif mistik, dan mencoba membangun konsepsi relasi kesetaraan baru antara laki-laki dan perempuandalam kerangka harmoni berdasarkan prinsip-prinsipajaran kaum mistis di dunia timur.

(Ini pengalaman pribadi)…betapa menyenangkannya,hari ini saya bangun dari tidur, berucap alhamdulilah kepada Tuhan atas anugerah kehidupan yang dilimpahkan,seraya berjanji dalam hati, bahwa sebagai wujud rasasyukur, hari ini saya akan berbuat kebajikan kepada sesama manusia termasuk tentu saja kepada istri saya,sosok manusia yang paling dekat dengan saya hari ini. Lalu, saya bangun, membersihkan dan merapikan tempattidur, menyapu ruang dalam dan luar rumah, mencuciperabotan rumah yang kotor, dan lain-lain. Sementara istri saya, bergegas ke dapur memasak sarapan pagi.Begitu selesai saya berinisiatif menghidangkannya (Thaks God bahwa saya tidak termasuk kebanyakan lelakiyang emoh menyiapkan hidangan makan untuk istri yangnota bene wanita karir, seperti disinyalir Mbak Linda!) untuk disantap bersama-sama sebelum berangkatke kantor. Selesai makan, saya menaruh dan (kalaumasih sempat) mencuci lagi alat-alat makan yangbarusan dipakai. Setelah itu, menerima ucapan salam (saya sering memaknainya sebagai doa) dari istri,sesaat setelah ia mencium tangan untuk pamitan kekantor, sambil tak lupa mengucapkan kata agar berhati-hati melakukan aktivitas apapun.Alhamdulillah…
Sembari melihat kepergian istri ke kantor, terngiang-ngiang kembali saya pada apa yang tertulisdalam sebuah buku hadist yang menceritrakan ahlakRasul SAW yang mulia yang diberi Bab "Kanaa Yahdimu fiaitihi" (Bab tentang Perbaktian Baginda Rasul diRumahnya kepada Keluarganya).

Lalu…mandi, kemudian bergegas ke kampus, melanjutkanjanji kesyukuran atas anugerah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan dengan cara berbuat kebajikankepada sebanyak mungkin manusia yang kita jumpai hariitu…sambil mengenangkan sabda baginda Rasul
"Khairunnas anfauhum linnas" (Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesamanya).(Sungguh, ini pengalaman pribadi)….

@HasrulKhalili

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Feminism

Mei 18, 2006 at 7:41 am (Polemik)

One of the superb book that stimulates my mind to reconceive about the feminism theory is "Why Men Don't Listen and Why Women Can't Read Maps", written by Allan and Barbara Pease. Look to the title, seems to be a silly book, huh :) Anyways, the first question that arises is why could men dominate the patriarchy culture? So, the book tries to unmask this question by serving some of the medical and hormonal facts and researches that distinguish between men and women, particularly in terms of job separation. Even from the very prehistoric culture..woohaa!

Nonetheless, i found few of men who like to prepare food for their children, make a milk for their babies, etc, regardless their job at the office. Probably, i really want to be that kind of man as well. No need to be shame (that's why i like to cook and i found that my girlfriend is not that eager to be with children:p-yet that's ok). So i think, we can still shape ourselves to be something or someone that we want to be since we have "self-awareness", even though we are usually thought by our "social mirror" that women are there to feed their babies and men have to carry out their tasks earning money for the sake of their family.

OK, ada tanggapan?

@DwiSatyaArdyanto 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Islam @Oprah

Mei 11, 2006 at 8:08 am (Polemik)

(1)

Saya kebetulan nonton acara Oprah pas tema itu, maklum, saya penggemar berat Oprah. Pada saat acara Oprah berlangsung, biasanya saya menyimaknya dengan kusyuk" :) . Saya kira teman kita "terlalu mendramatisir"pernyataan warga AS tersebut. Wong, dia cuma bilang dengan nada datar dan air muka biasa-bisa saja, kalau model interaksi laki-laki dan perempuan yang diterapkan dalam tradisi Islam (mungkin) bisa menjadi referensi yang lain di tengah berbagai problematika seksual (ex. aborsi, perselingkuhan, kenakalan remaja, dll) yang melanda masyarakat Amerika saat ini. So,tidak ada yang istimewa. Kita saja orang Islam gereandan doyan "mengklaim sesuatu" secara berlebih-lebihan.

Justru yang menarik adalah pertanyaan Oprah dan jawaban yang bersangkutan ketika diskusi tentang "sikap diskriminatif" warga AS terhadap muslim (arab) di Amerika yang kadang tidak proporsional dan cenderung menggeneralisir. Dia misalnya, secara objektif menjelaskan perasaan kebencian yang "gebyah uyah" oleh sebagian besar warga AS (termasuk dirinya) terhadap umat Islam (yang nota bene sebagiannya juga adalah warga negara AS) pada saat mengetahui bahwa yang melakukan peristiwa 11 September itu adalah muslim (arab). Sebuah perasaan kebencian yang sama ternyata tidak terjadi pada peristiwa pemboman di Okhlahoma, yang dilakukan oleh orang Amerika berkulit putih dan non muslim.

Biasa aja lah…

(2)

Yang jelas, acara Oprah dengan tema itu seperti mengafirmasi pendapat yang mengatakan bahwapengetahuan orang Amerika tentang Islam (sebagai "theothers") sangatlah minim (untuk tidak mengatakannya "memprihatinkan"). Maklum saja, mengutip Neil Postman (seorang pakar komunikasi di Amerika), masyarakat Amerika saat ini memang "dikepung oleh budaya TV",sebuah ikon yang sekaligus menjadi media yang sebenarnya sangat tidak cukup representatif menjelaskan berbagai wacana, tak terkecuali wacana tentang agama Islam. Kata Postman, orang Amerika cuma tahu nama Khomenei, tetapi hampir bisa dipastikan tidak tahu atribut-atribut yang menyertai Khomenei,seperti: gelar Ayatullah maknanya apa, hakekat revolusi Islam itu apa, karbala itu simbolisasiperjuangan melawan apa, ideologi Islam (syiah) ituapa, dll. Saya masih ingat betul pernyataan warga AS
itu di depan Oprah waktu dia bilang bahwa dirinya sering menanyakan kepada teman-teman Amerikanya tentang sejumlah tokoh dan lembaga Islam yang dikenal. Mereka rata-rata secara refleks menyebut nama: Osama bin Laden, Saddam Husein, Al-Qaeda….dst, tokoh dan lembaga yang memang identik dengan aktivitasterorisme :( .

Sementara orang Islam sendiri tidak cukup cerdasmensosialisasikan Islam secara tepat pada masyarakatAmerika dalam konteks media. Alih-alih menggunakanmedia sebagai wasilah untuk menjelaskan Islam dengancara yang baik, umat Islam malah dijadikan oleh media sebagai umpan empuk untuk meneguhkan pandangan bahwa Islam identik dengan terorisme.

@HasrulKhalili

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Diabolus: Iblis

Mei 3, 2006 at 8:16 am (Polemik)

Untuk berbicara, melanjutkan polemik ini, sebetulnya ada basic question dulu yang harus dikuasai yakni ttgapa itu Syetan/Iblis.

Syetan dan Iblis adalah dua kata yang telah dikenalbahkan sejak Abrahamic Religion (Judeo-cristian-islam)belum ada. Informasi yang paling tua bisa dilacak di agama Zorostrianism (aQ: Majusi). Zorostrianism adalahkepercayaan yang memandang bahwa penciptaan (genesis)dari awal mula sudah bersifat dualism (gelap-terang,baik-jahat, good-evil, Light-Darkness, Ahura Mazda/god- Angra Mainyu/the evil one). Menurutnya Tuhan dan Kuasa Gelap adalah co-existance, ada muncul secarabersamaan. Oleh karena itu seperti juga nanti bisa dilihat berpengaruhnya kepada agama-agama lain misal Kristen, kepercayaan kepada Tuhan harus dibarengi dengan perjuangan habis2an terhadap Kuasa Gelap. Dalam Kristen, kepercayaan ttg adanya Anti-Christ adalah sangat signifikan. Ada kerajaan Allah versus kerajaan Iblis.

Dari segi kata sendiri, hampir di semua kepercayaandan budaya/filsafat kata Syaitan dan Iblis persis memakai term yang sama. Syaitan merupakan peng-arabandari kata satan -Yunani dan Satanas -Aramaik (bahasaawal Injil) yang artinya: perlawanan dan terhukum. Sedangkan Iblis berasal dari kata diabolus (Yunani)yang berarti: pemitnah, tukang tuduh jahat. Hampirsemua kitab menyebut ttg syetan dan Iblis. Dalam alQuran Syetan disebutkan 87x dan Iblis 11x. Syetan dipakai sebagai kata sifat (ajektif) yang bisa diatributkankepada manusia maupun jin. Sedangkan Iblis lebih dikenal sebagai nama personal sebuah kekuatan yang taktunduk (dhi. juga banyak polemik yang mengatakan apakah iblis sebutan untuk makhluk yang absolutberbuat/bersifat syetan ataukah minoritas malaikatyang membangkang, karena dalam ayat ttg suruhan sujud,di sana tidak ada disebutkan awal-awalnya bahwa forum tsb dihadiri oleh makhluk lain kecuali Adam sendiridan PARA MALAIKAT). Ini ayatnya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada paramalaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalahia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Dalam forum malaikat kok tiba-tiba muncul illa-IBLIS!Dalam sejarah nabi, juga istilah Syetan dan Iblistidak terlalu populer. Tidak ada perkelahian nabidengan yang namanya Iblis diriwayatkan, berbeda denganriwayat yesus yang pernah dibawa kabur Iblis ke sebuah
bukit (sering menjadi inspirasi para penulis untuk kontemplasi, contoh: Khotbah di Atas BukitnyaKuntowijoyo). Hal yang berbau majik dalam cerita nabihanya satu kali disebutkan (baca Surat alFalaq), yakni yang menceritakan dendam seorang istri (yang kebetulanjago sihir)dan 3 anak putrinya untuk mengguna-gunaNabi saw, karena pasukan Muhammad telah membunuh suaminya. Dan gak ada hal-hal adimanusiawi yangdilakukan nabi ketika tahu bahwa dia disihir, diahanya meminta para perempuan itu taubat dan menyuruh untuk mengubur tali-tali buhul sebagai medium sihiritu dikuburkan di sebuah sumur. Gak ada misalnyakemudian nabi menggeneralisirnya (seperti cerita tokoh2 lain) bahwa itu perbuatan syetan/iblis.Sehingga rasanya menjadi keren: tuh musuh gue mahkelasnya Iblis! :)

Oleh karena itu juga, menurut saya kita gak perlukhawatir tentang Syetan/Iblis karena Muhammad pun tidak menjadikannya tema besar dalam perjuangan Islam.Musuh besar Islam dari semula adalah para konglomerat penguasa ekonomi yang monopolistik dan mempertahankanketidakadilan. Yang menjadikan kepercayaan masyarakatmenjadi sumber kekuatan materialistiknya. Mekkah dengan ka'bahnya adalah sentrum metropolitan yangritual-ritualnya potensial membawa berkah materi yangmelimpah. Seperti terjadi sampai sekarang ini kan? Mana kesejahteraan muslim dibangun dengan dana hasilhaji? Berapa trilyun para raja arab itu mengantongikeuntungan dari ziarah haji setiap tahunnya? Kelaparan di mana-mana yang bantu World Bank :) … kok jadi ngelantur ya… gak apa2, biar orang pada tahu bahwa saya antek2 nya Khomeini, yang punya ide:Internasionalisasi Mekkah, agar menjadi kesejahteraan umat muslim sedunia, bukan para raja arab yang glamour dan birahi itu…

Terus kemudian, mungkin bacalah tentang syetan dan Iblis dengan sedikit nada humor, seperti cerpenseorang Mesir (Tawfik el-Hakim) berjudul Martir, yangbercerita ttg Iblis yang mau bertobat… tapi akhirnya mendapatkan jawaban dari Jibril sbb:

YA, IBLIS, KETAATANMU KEPADA ALLAH ADALAH PEMBANGKANGAN KAMU… KAMU MEMANG PERSIS DICIPTAKAN DENGAN MAKSUD SEPERTI ITU… AGAR ALLAH MENJADI PILIHAN BAIK TEMPAT KEMBALI, AGAR AGAMA MENJADI BERMAKNA, AGAR PARA RAHIB-PENDETA DAN USTADZ PUNYA KERJAAN (membodohi dan memeras umatnya  :)

@PeriFarouk 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Syaithon

Mei 2, 2006 at 8:28 am (Polemik)

Mengikuti perbincangan rekan-rekan tergelitik pula hati saya yang faqir akan ilmu agama untuk turun rembuk sekedar melapangkan hati dan meluruskan faham, semoga yang tercipta bukan alunan pedang dan tangkisan perisai (seperti kata Sdr. Dwi) melainkan cahaya senyuman dan hikmah pengetahuan.
 
Senyuman pula yang tercipta, ketika sdr.Khus menukil ucapan Cak Nun "kita tidak perlu membenci syetan karena syetan semata2 hanya menjalankan tugasnya", dilanjutkan dengan kalimat "dan bisa dikatakan bahwa tauhid setan lebih tinggi dari malaikat karena tidak mau menyembah kepada manusia". saya sepakat dengan sdr.Khus ketika dikatakan kedua kalimat tersebut tidak nyambung….menurut saya memang tidak nyambung. namun saya masih mempertanyakan maksud kalimat tersebut, yang mungkin sdr.Khus sudah benar-benar mempunyai pemahaman yang benar terhadap apa yang dituliskannya, semoga dapat berbagi hikmah terhadap saya yang belum paham.
 
Syetan didudukkan pada posisi sebagai "Musuh yang Nyata" bagi manusia, mungkin ada benarnya musuh tidak perlu kita benci, namun perasaan apa yang melatarbelakangi kejadian pelemparan batu oleh Ibrahim AS dan Ismail AS kepada musuh yang nyata tersebut? mungkin ada teman yang mau berbagi hikmah dibalik ini.
 
Mengenai kalimat tauhid syetan lebih tinggi dari malaikat karena tidak mau menyembah manusia, mengikuti semangat Hasan al-Bana dalam menjaga ketauhidan, saya pun bermaksud mempertanyakan pemahaman dibalik kalimah tersebut.
 
Pemahaman saya, sujudnya malaikat pada Adam AS ketika diperintahkan oleh Allah, adalah semata-mata penghormatan pada manusia akan kelebihan yang diberikan oleh-Nya dan bentuk ketaatan Malaikat yang tanpa syarat kepada perintah Tuhannya, sama sekali bukanlah bentuk penyembahan dari makhluk kepada makhluk lainnya. Justru dengan hikmah tauhid maka tidak ada penolakan terhadap perintahnya dan ketaatan dalam menjalankannya.
 
Sebaliknya, pengingkaran Syetan yang tidak mau menghormati Adam AS didasari oleh arogansi dengan memandang dirinya lebih baik dari pada makhluk yang kepadanya Allah menyuruh syetan untuk sujud, arogansi syetan melatarbelakangi dirinya untuk mengingkari perintah Allah.
 
Nah, dengan adanya pengingkaran syetan terhadap apa yang diperintahkan kepadanya, kalo boleh saya berucap bahwa Syetan tidak menjalankan tugas atau amar dari Allah…..jadi saya pun tidak setuju dengan kalimat "kita tidak perlu membenci syetan karena syetan semata2 hanya menjalankan tugasnya" (sebagaima nukilan sdr.Khus terhadap perkataan Cak Nun), saya memandang bahwa Syetan tidak semata-mata hanya menjalankan tugasnya, namun menuruti arogansinya….masih benarkah pernyataan untuk tidak perlu membenci syetan?

@HosnuElWafa 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »