Wanted: KEJUJURAN
Hari ini, sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri membeli kartu isi ulang Simpati 50 ribu di sebuah wartel di dekat rumah saya di bilangan Tebet. "Berapa, Mbak" tanya saya."58 ribu, Mas""OK, ini uangnya, 100 ribu"
Wah, ga ada kembalian, Mas. Uangnya yang pas aja""Uang saya cuman ada 102 ribu, Mbak"
Akhirnya penjaga wartel itu mengeluarkan uang kembalian sebesar 48 ribu.
"Mbak, ini kembaliannya ada. Tadi koq bilang nggak ada" tanya saya dengan bersungut-sungut. Mbak itu hanya terdiam saja tanpa berani memandang kedua bola mata saya yang menatapnya dengan tajam. Sejak itu saya meneguhkan hati saya untuk tidak membeli ataupun menelepon di wartel tersebut.
***
Suatu ketika, saya hendak membeli tiket kereta api (tag) dari kota Lund (Swedia) ke Kopenhagen (Denmark). Kebetulan uang saya terlalu besar. Hingga akhirnya saya memutuskan diri untuk mampir ke sebuah mini market bernama "Presbyran" di stasiun kereta Lund.
"Mbak, saya mau menukarkan uang saya untuk membeli tiket kereta, bisa?" tanya saya.
"Maaf, Mas, sebenarnya saya ingin sekali membantu Mas. Namun kebetulan manajer saya meminta saya untuk menolak menukarkan uang kepada siapapun yang hendak menukarkan uang di sini karena toko Kami membutuhkan uang pecahan kecil juga. Maaf sekali ya, Mas" jawab penjaga toko itu dengan wajah nampak berempati.
"Oh, nggak pa-pa, koq" jawab saya sambil tersenyum ikhlas kepada gadis berambut pirang dan bermata biru tersebut.
Menteng, 19 Mei 2006 @DwiSatyaArdyanto
Karikatur Nabi SAW
Berikut ini ada sekelumit pengalaman temen2 pelajar di Paris dan juga artikel tentang karikatur Nabi Muhammad, semoga bermanfaat. Karikatur nabi Muhammad tidak hanya sekarang, tapi sejak dulu…
Kalau pingin tahu lebih lanjut, bisa dilihat di website dibawah ini: http://www.zombietime.com/mohammed_image_archive/ Terus terang saya kehabisan kata-kata melihatnya. Tidak bisakah kita hidup saling menghormati?
Seorang teman perancis, yang mungkin didorong oleh rasa penasaran dan mungkin juga iseng, bertanya sama saya:"Kenapa orang islam marah dengan karikatur nabi muhamad?"
Saya jawab; "Karena nabi muhamad tidak boleh digambar, apalagi dengan karikatur yang benar2 menghina semacam itu. C'est une humiliation, une insulte (penghinaan)." begitu saya tegaskan.
Dia tidak puas, dan bertanya makin jauh; "Tapi kan orang yang menggambar itu bukan orang islam, jadi dia tidak terikat dengan aturan larangan tersebut." Sejenak saya termenung. Rupanya dia makin berani dan mencoba menjustifikasi lebih jauh.
"..lagian, kan buat orang islam tidak ada pengaruhnya. Kenapa mesti marah dengan apa yang dikatakan orang, yang penting buat kamu tetap percaya kalau nabi muhamad tidak seperti yang mereka gambarkan."
Ada perasaan pedih ketika dia bilang seperti itu. Sambil berdo'a, saya berpikir keras supaya bisa menjelaskan kenapa umat islam marah dengan kasus tersebut. Hingga akhirnya saya bilang sama dia: "Ok, sekarang saya beri contoh."
Sambil meminta maaf sebelumnya,takut dia tersinggung, terus saya jawab;" Misalnya ada orang yang bilang sama kamu kalau ibu kamu itu… Elle est putain, connard, bordel ou.. elle est une vrai salope.. Quelle sera ta reaction?" (pelacur, berandalan) terus saya tambahkan, "..bagaimana kalau selain itu, ditampilkannya juga photo orang tua kamu dalam keadaan yang…SENSOR…, pokoknya benar2 menjijikan?"
Dia terdiam. Terus saya membalikkan kata2 dia: "Apakah kamu tidak marah dengan apa yang mereka ucapkan ke kamu?"
"Apakah kamu akan masa bodoh, karena orang yang menghina itu bukan anak ibu kamu karena mereka tidak terikat oleh aturan untuk menghormati ibu kamu? Dan apakah kamu akan masa bodoh karena yang penting buat kamu tetap percaya kalau ibu kamu itu tidak seperti yang mereka ucapkan?"
Dia terdiam. Kemudian saya menambahka: "tu te mets en colere, n'est-ce pas? si tu fait aucune reaction, t'es pas normal."
"Bagaimana mungkin kamu tidak tersinggung, kalau orang yang kamu cintai dihina orang. Begitu pula umat islam, kami sangat mencintai nabi muhamad, seperti halnya kami mencintai orang tua kami, bahkan lebih dari itu."
"Tu te rends compte?"
@SigitDanangJoyo